BERAU – Persoalan air bersih di Pulau Maratua yang belum teratasi dengan baik dapat berdampak pada aktivitas harian masyarakat kampung, serta juga memengaruhi sektor jumlah pengunjung pariwisata yang selama ini menjadi andalan wilayah kepulauan tersebut.
Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) Berau menyarankan untuk menggunakan teknologi penyulingan air laut menjadi air tawar dan sebut biaya penyulingan air laut menjadi air tawar itu sebenarnya tidak terlalu besar, sekitar Rp2 sampai Rp5 miliar.
Wakil Ketua II DPRD Berau, Sumadi, mengatakan kebutuhan air bersih di Maratua harus segera ditangani karena berkaitan langsung dengan kehidupan warga maupun kenyamanan wisatawan yang datang ke destinasi tersebut.
Menurutnya, salah satu solusi yang dapat dipertimbangkan pemerintah daerah ialah penggunaan teknologi penyulingan air laut menjadi air tawar atau desalinasi. Ia menyebut usulan itu sebelumnya telah disampaikan dalam pembahasan bersama pemerintah daerah.
“Biaya penyulingan air laut menjadi air tawar itu sebenarnya tidak terlalu besar, sekitar Rp2 sampai Rp5 miliar. Kemarin juga sudah kita usulkan pengadaan penyulingan air supaya bisa dimanfaatkan masyarakat,” ujarnya pada Rabu (27/05/2026).
Ia menilai selama ini ketersediaan air di Maratua masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan warga. Sementara fasilitas penampungan air yang ada disebut belum mampu berfungsi optimal.
“Kalau kita mengandalkan sumber air yang ada sekarang tentu tidak cukup. Penampungan yang dipakai juga belum berfungsi maksimal,” katanya.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat pemerintah perlu mulai mencari alternatif lain yang lebih memungkinkan diterapkan di wilayah kepulauan. Ia berharap Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Berau dapat menghadirkan terobosan baru dalam penanganan air bersih di kawasan pesisir dan pulau terluar.
Sumadi mencontohkan penerapan teknologi desalinasi di Bali, khususnya di wilayah Badung, yang dinilai berhasil membantu memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat. Bahkan, menurutnya, sistem tersebut juga memberikan dampak ekonomi bagi daerah.
“Di Bali sudah ada penyulingan air laut menjadi air tawar. Bahkan bisa mendatangkan PAD,” ucapnya.
Ia mengatakan alat penyulingan tersebut dapat digunakan dalam jangka panjang selama proses operasional dan perawatannya berjalan baik. Berdasarkan informasi yang diterimanya, teknologi itu dapat didatangkan dari luar negeri.
“Pemakaiannya bisa jangka panjang. Tinggal bagaimana pengoperasiannya saja,” tambahnya.
Selain masalah air bersih, DPRD Berau juga menyoroti abrasi yang mulai terjadi di sejumlah kawasan pesisir Maratua. Abrasi dinilai menjadi ancaman lain yang perlu segera ditangani karena berpotensi merusak lingkungan pantai hingga mengganggu permukiman warga.
“Mudah-mudahan ke depan ada anggaran dari PUPR untuk penanganan abrasi. Kami juga mengusulkan bantuan ke provinsi untuk menangani abrasi di daerah yang sekarang terdampak,” tutupnya.

