KUTAI KARTANEGARA, (IT-NEWS.ID)- Setiap desa memiliki sejarah yang menjadi identitas masyarakatnya. Sejarah bukan sekadar kumpulan tahun dan nama tokoh, tetapi perjalanan panjang yang membentuk karakter sebuah kampung hingga menjadi seperti sekarang.

Demikian pula Desa Sungai Mariam, Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara. Desa yang kini menjadi pusat pemerintahan Kecamatan Anggana ini lahir melalui perjalanan panjang masyarakat pesisir Sungai Mahakam yang hidup dengan semangat gotong royong, kerja keras, serta menjunjung tinggi nilai persaudaraan.

Feature ini disusun sebagai upaya mendokumentasikan sejarah Desa Sungai Mariam agar tetap dikenang oleh generasi sekarang maupun generasi yang akan datang.

 

AWAL MULA BERDIRINYA DESA SUNGAI MARIAM DAN SUNGAI MAHAKAM MENJADI NADI KEHIDUPAN

 

Berdasarkan cerita para tetua kampung, khususnya Bahari, cikal bakal Desa Sungai Mariam diperkirakan telah ada sekitar tahun 1818 Masehi.

Saat itu wilayah tersebut masih berupa sebuah permukiman kecil bernama Dusun Tangki Enam, yang berada di kawasan belakang SDN 003 Anggana hingga kawasan Padat Karya dan Jembatan Baru.

Nama Tangki Enam berasal dari keberadaan enam tangki penampungan minyak bumi yang dibangun pada masa pemerintahan Hindia Belanda.

Tangki tersebut digunakan sebagai tempat penyimpanan minyak sebelum dikirim melalui Sungai Mahakam menuju Sangasanga.

Sejak dahulu Sungai Mahakam menjadi pusat kehidupan masyarakat. Sungai bukan hanya menjadi jalur transportasi, tetapi juga menjadi urat nadi perdagangan, tempat mencari ikan, mengangkut hasil bumi, hingga menjadi penghubung berbagai kampung di sepanjang alirannya.

Kondisi geografis inilah yang kemudian menjadikan masyarakat Sungai Mariam tumbuh sebagai masyarakat pesisir yang terbiasa hidup berdampingan dengan alam.

Nama Sungai Mariam berasal dari seorang perempuan bernama Mariam. Beliau tinggal di tepian anak Sungai Mahakam yang kini berada di sekitar Masjid Al-Badar.

Walaupun catatan tertulis mengenai kehidupannya sangat terbatas, masyarakat meyakini Mariam merupakan sosok yang sangat dihormati.

Sebagai bentuk penghormatan, masyarakat kemudian mengabadikan nama beliau menjadi nama kampung.

Hingga kini nama tersebut tetap dipertahankan sebagai identitas desa.

 

KEHIDUPAN MASYARAKAT TEMPO DULU

 

Masyarakat Sungai Mariam sejak dahulu menggantungkan hidup pada hasil alam. Sebagian besar bekerja sebagai nelayan. Sebagian lainnya berkebun, bertani, berdagang, dan mengolah hasil hutan.

Kehidupan memang sederhana, namun nilai gotong royong, musyawarah, saling membantu, serta rasa kekeluargaan telah menjadi budaya yang diwariskan turun-temurun.

 

KAMPUNG KAJANG DAN SOSOK NORESAH

 

Di wilayah sekitar Sungai Mariam berkembang pula sebuah permukiman yang dipimpin seorang perempuan bernama Noresah.

Karena pengaruhnya cukup besar, kawasan tersebut semula dikenal sebagai Kampung Noresah. Seiring waktu nama itu berubah menjadi Kampung Kajang.

Istilah “kajang” berasal dari atap rumah yang dibuat dari anyaman daun nipah. Pembuatan kajang pada masa itu menjadi salah satu mata pencaharian masyarakat selain menangkap ikan dan berkebun.

 

PARA PETINGGI YANG PERNAH MEMIMPIN

 

Sejarah pemerintahan Sungai Mariam juga ditandai oleh pergantian para petinggi kampung.

Beberapa tokoh yang pernah memimpin antara lain:

– Dullah

– Anang Saleh (Anang Kamasan)

– Matali

– Muhidin

– Rifai

– Anang Dehem

Masing-masing memberikan pengabdian sesuai tantangan pada zamannya.

Setelah Indonesia merdeka, pemerintahan kampung sempat mengalami kekosongan.

Melihat kondisi tersebut, tokoh masyarakat dari Sungai Mariam dan Kampung Kajang berkumpul dalam musyawarah besar tahun 1950.

Musyawarah itu dihadiri berbagai tokoh penting, antara lain:

– Ismail bin Durrahim (Kai Daeng)

– Raden Fatah Soebandi

– Djeman Achmad

– Kai Tanggil

– Kai Ahim

– Daud Mastur

– Amat Wakil

– Atim

Melalui musyawarah mufakat tersebut diputuskan mengangkat Ahmad Matali sebagai Kepala Kampung Sungai Mariam.

 

LAHIRNYA KECAMATAN ANGGANA

 

Tonggak sejarah penting berikutnya terjadi pada 9 Januari 1960. Saat itu Kecamatan Anggana resmi dibentuk sebagai bagian dari Kabupaten Kutai.

Mohd Asnan menjadi camat pertama, sementara A.R. Padmo menjabat Bupati Kutai dan APT Pranoto menjabat Gubernur Kalimantan Timur.

Peristiwa tersebut menjadi awal terbentuknya sistem pemerintahan modern di wilayah Anggana.

 

SUNGAI MARIAM MENJADI IBU KOTA KECAMATAN

 

Awalnya ibu kota Kecamatan Anggana berada di Desa Anggana. Namun pada tahun 1972, ketika Idris Seman, BA menjabat Camat Anggana, pusat pemerintahan resmi dipindahkan ke Desa Sungai Mariam.

Peristiwa ini menjadi titik penting yang mengukuhkan Sungai Mariam sebagai pusat pelayanan pemerintahan Kecamatan Anggana hingga sekarang.

Perjalanan pembangunan desa kemudian diteruskan oleh para kepala desa dari masa ke masa, yaitu:

– Usman D

– Lamidi

– M. Ishak

– Idris (Plt)

– Awaluddin

– Muhemin

– H. Wagiman

– H. Norjali, SH

– Wahyu Eka Trisnawan, SP., MM (Penjabat)

– Indra Lesmana (Olong)

Setiap pemimpin memiliki kontribusi masing-masing dalam membangun infrastruktur, pelayanan masyarakat, serta menjaga semangat kebersamaan yang telah diwariskan para pendahulu.

 

HARAPAN KEPALA DESA UNTUK GENERASI PENERUS

 

Kepala Desa Sungai Mariam saat ini, Indra Lesmana (Olong), menegaskan bahwa sejarah bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi menjadi fondasi dalam membangun masa depan desa.

“Sejarah Desa Sungai Mariam adalah warisan yang sangat berharga. Tugas kita hari ini bukan hanya membangun infrastruktur, tetapi juga menjaga identitas, budaya, dan nilai-nilai gotong royong yang telah diwariskan para pendahulu. Saya berharap generasi muda mengenal sejarah desanya sendiri agar tumbuh rasa memiliki, mencintai kampung halaman, serta bersama-sama melanjutkan pembangunan Sungai Mariam menjadi desa yang semakin maju tanpa melupakan akar sejarahnya.” Ucap Indra Lesmana

Perjalanan Desa Sungai Mariam membuktikan bahwa sebuah desa besar tidak lahir secara instan.

Dari sebuah dusun kecil bernama Tangki Enam, berkembang menjadi kampung yang dihormati, kemudian dipercaya menjadi pusat pemerintahan Kecamatan Anggana.

Semangat persaudaraan, musyawarah, gotong royong, dan kerja keras para pendahulu menjadi modal utama yang harus terus dijaga.

Semoga sejarah ini tidak berhenti sebagai cerita masa lalu, tetapi menjadi inspirasi bagi seluruh masyarakat untuk terus membangun Desa Sungai Mariam sebagai desa yang maju, religius, sejahtera, dan tetap menghormati jasa para pendahulunya.

 

Sumber: Catatan almarhum M. Ishak dan cerita langsung beliau semasa hidup.