SAMARINDA – Upaya memperkuat ekosistem kendaraan listrik di Kalimantan Timur terus didorong. Salah satunya melalui kegiatan Coffee Talk yang digelar Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kaltim di Samarinda, Sabtu (18/4/2026).
Forum diskusi yang dikemas santai ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, pelaku usaha, hingga komunitas kendaraan listrik, termasuk pengemudi ojek online berbasis listrik. Meski berlangsung dalam suasana nonformal, pembahasan yang diangkat tetap fokus pada tantangan dan peluang pengembangan Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB).
Ketua panitia kegiatan, EL Nova Saefuddin Zuhri, mengatakan konsep diskusi santai dipilih agar komunikasi antar pihak bisa lebih terbuka dan produktif.
“Konsepnya santai, tapi tetap berbobot. Dengan suasana seperti ini, diharapkan para peserta lebih leluasa bertukar gagasan dan mencari solusi bersama,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kegiatan ini menjadi ruang untuk menyatukan pandangan berbagai pihak terkait pengembangan kendaraan listrik di daerah. Menurutnya, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama dalam mendorong percepatan ekosistem KBLBB.
“Kami ingin mempertemukan semua stakeholder dalam satu forum. Dari situ kita bisa melihat tantangan sekaligus peluang, terutama terkait akses dan infrastruktur pendukung,” jelasnya.
Nova mengakui, pengembangan kendaraan listrik di daerah masih menghadapi sejumlah kendala. Mulai dari keterbatasan infrastruktur, minimnya pemahaman masyarakat, hingga perlunya penguatan koordinasi antar pihak.
“Tidak bisa berjalan sendiri. Pemerintah, pelaku usaha, dan komunitas harus bergerak bersama,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Dinas ESDM Kaltim, Bambang Arwanto, menekankan bahwa transisi energi menjadi kebutuhan yang tidak bisa dihindari, seiring meningkatnya konsumsi energi dan tantangan global.
“Kebutuhan energi akan terus meningkat. Di sisi lain, kondisi global juga memengaruhi ketersediaan energi, sehingga kita perlu menyiapkan alternatif sejak sekarang,” ujarnya.
Ia menyebut sektor transportasi menjadi salah satu penyumbang emisi karbon yang cukup besar, sehingga peralihan ke kendaraan listrik dinilai penting untuk menekan dampak lingkungan.
“Pada 2024, sektor transportasi menyumbang sekitar 5 juta ton CO2. Ini menjadi salah satu alasan pentingnya percepatan kendaraan listrik,” ungkapnya.
Bambang juga memaparkan perkembangan kendaraan listrik di Kaltim yang menunjukkan tren positif. Hingga triwulan pertama 2026, jumlah kendaraan listrik tercatat mencapai 4.380 unit.
“Angka ini meningkat sekitar 420 persen dibandingkan tahun 2023. Meski demikian, jumlahnya masih kecil, baru sekitar 0,1 persen dari total kendaraan,” jelasnya.
Meski masih terbatas, posisi Kaltim secara nasional dinilai cukup baik. Bahkan, berada di peringkat atas untuk wilayah luar Pulau Jawa.
Sebagai bentuk dukungan, Pemprov Kaltim terus menghadirkan berbagai fasilitas pendukung, mulai dari pembangunan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) hingga program pengisian daya gratis bagi ojek online berbasis listrik.
“Kami menyediakan charging gratis pada hari tertentu sebagai bentuk dukungan nyata bagi pengguna kendaraan listrik,” kata Bambang.
Selain itu, pelatihan konversi motor listrik juga terus digalakkan bekerja sama dengan Kementerian ESDM. Program ini diharapkan dapat mempercepat adopsi kendaraan listrik di masyarakat.
“Kami sudah melaksanakan pelatihan dan akan terus berlanjut. Ini bagian dari upaya membangun ekosistem dari hulu ke hilir,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan seperti Coffee Talk ini tidak berhenti sebagai forum diskusi semata, tetapi menjadi langkah awal memperkuat kolaborasi konkret antar pihak.
“Kegiatan ini menjadi momentum penting. Ke depan, kami akan terus mendorong program lanjutan untuk meningkatkan kesadaran dan penggunaan kendaraan listrik,” tutupnya.
Melalui kolaborasi yang terbangun, pengembangan kendaraan listrik di Kalimantan Timur diharapkan dapat berjalan lebih cepat dan berkelanjutan.

