BERAU — Kelestarian hutan di Pulau Besing, Kecamatan Gunung Tabur, menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Kawasan ini dikenal sebagai habitat utama bekantan, primata endemik yang menjadi salah satu ikon satwa khas Berau.
Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Samsiah Nawir, menegaskan pentingnya menjaga kondisi hutan bakau di Pulau Besing agar tetap alami dan tidak mengalami kerusakan.
“Kita berharap Pulau Besing tidak merambah hutannya, supaya bekantan itu tetap betah di pulau itu,” ujarnya, Rabu (29/4/26).
Pulau Besing sendiri diketahui menjadi rumah bagi ratusan bekantan yang hidup di kawasan hutan mangrove. Jumlah ini menjadikannya sebagai salah satu lokasi dengan populasi bekantan terbanyak di Berau.
Meski demikian, Samsiah menyebut keberadaan bekantan tidak hanya terbatas di Pulau Besing. Satwa tersebut juga dapat ditemukan di kawasan lain, seperti wisata susur sungai mangrove di Kampung Tembudan, Kecamatan Batu Putih, meskipun jumlahnya tidak sebanyak di Pulau Besing.
“Di beberapa tempat juga ada, seperti di Tembudan, tapi memang tidak sebanyak di Pulau Besing,” jelasnya.
Potensi wisata berbasis alam ini pun menjadi daya tarik tersendiri. Pengunjung dapat menyaksikan aktivitas bekantan secara langsung, terutama saat sore hari melalui kegiatan susur sungai.
“Kalau di Pulau Besing, saat senja itu biasanya cukup banyak terlihat,” tambahnya.
Namun demikian, keberlangsungan habitat menjadi faktor utama agar populasi bekantan tetap terjaga. Menurutnya, upaya masyarakat dalam menghindari penebangan hutan sangat berperan penting dalam menjaga ekosistem tersebut.
Ia juga mengingatkan bahwa bekantan memiliki kemampuan untuk berpindah habitat jika merasa terancam. Bahkan, satwa ini dapat berenang menyeberangi sungai untuk mencari tempat tinggal yang lebih aman.
“Kalau kehilangan pohon-pohon besar sebagai tempat tinggal, bekantan bisa berpindah ke pulau lain untuk mencari habitat yang lebih layak,” ungkapnya.
Karena itu, menjaga kelestarian hutan Pulau Besing tidak hanya penting bagi lingkungan, tetapi juga untuk mempertahankan keberadaan bekantan sebagai kekayaan hayati daerah.
Pemerintah berharap kesadaran bersama masyarakat dapat terus ditingkatkan, agar kawasan tersebut tetap hijau dan menjadi habitat yang aman bagi satwa liar, sekaligus mendukung pengembangan ekowisata di Berau.

