BERAU, IT-NEWS.ID – Ketua Badan Pengurus Cabang Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPC HIPMI) Kabupaten Berau, Tony Suprayugo, mengapresiasi kunjungan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni ke Kabupaten Berau. Ia menilai kunjungan tersebut tidak hanya bersifat seremonial, tetapi turut membawa perhatian dan dukungan nyata bagi masyarakat.
Tony mengatakan, sejumlah agenda yang dibawa dalam kunjungan Menteri Kehutanan memiliki dampak langsung bagi daerah. Mulai dari penguatan Perhutanan Sosial, dukungan terhadap pengembangan komoditas masyarakat seperti kakao, hingga perhatian terhadap warga yang terdampak kebakaran hutan dan lahan atau karhutla.
“Kami dari HIPMI Berau tentu mengapresiasi kedatangan Menteri Kehutanan ke Berau. Yang paling penting, kedatangan ini membawa manfaat nyata untuk masyarakat, bukan sekadar kunjungan,” kata Tony Suprayugo.
Menurut Tony, perhatian pemerintah pusat terhadap Berau menjadi penting karena daerah tersebut memiliki kawasan hutan yang luas sekaligus potensi ekonomi masyarakat yang cukup besar dari sektor perkebunan, kehutanan sosial, pariwisata hingga usaha berbasis sumber daya lokal.
Dalam kunjungannya ke Berau, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni juga berdialog dengan kelompok penerima Perhutanan Sosial. Program tersebut memberikan hak kelola sekitar 11.933 hektare kepada kelompok masyarakat di Berau, Kutai Timur dan Bulungan dengan penerima manfaat mencapai 1.023 kepala keluarga.
Tony menilai, pemberian akses pengelolaan kawasan harus diikuti dengan pendampingan usaha agar masyarakat tidak hanya menjadi penjaga kawasan hutan, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi.
“Potensinya banyak. Ada kakao dan komoditas masyarakat lainnya yang bisa dikembangkan. Kalau pemerintah hadir memberikan pendampingan dan membuka akses, tentu ini bisa menggerakkan ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Selain program kehutanan, perhatian terhadap masyarakat terdampak karhutla juga mendapat apresiasi HIPMI Berau.
Dalam rangkaian kunjungan tersebut, Raffi Ahmad, Gading Marten dan Irfan Hakim disebut memberikan bantuan senilai Rp500 juta untuk masyarakat Berau yang terdampak karhutla.
Tony berharap bantuan tersebut dapat disalurkan tepat sasaran kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan.
“Bantuan Rp500 juta untuk masyarakat terdampak karhutla tentu patut kita apresiasi. Semoga benar-benar bermanfaat untuk orang banyak, terutama warga yang terdampak langsung,” katanya.
Tony mengatakan, penanganan persoalan kehutanan dan karhutla membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Pemerintah pusat dan daerah, dunia usaha hingga masyarakat perlu memiliki peran masing-masing.
Karena itu, ia mengapresiasi pendekatan Menteri Kehutanan yang turun langsung melihat kondisi di lapangan dan berdialog dengan masyarakat.
“Bagus kalau pejabat pusat datang kemudian langsung melihat kondisi masyarakat dan mendengar apa yang menjadi kebutuhan mereka. Jadi kebijakan yang dibuat nantinya bisa benar-benar sesuai dengan kondisi di lapangan,” ujar Tony.
HIPMI Berau, kata Tony, juga mendorong agar momentum kunjungan pemerintah pusat dapat membuka ruang lebih luas bagi pemberdayaan ekonomi masyarakat dan pelaku usaha lokal.
Menurut dia, potensi sektor kehutanan dan perkebunan di Berau dapat menciptakan nilai tambah apabila dikelola dengan pendekatan berkelanjutan serta melibatkan masyarakat setempat.
“Kita berharap setelah kunjungan ini ada tindak lanjut. Jangan berhenti pada kegiatan hari ini saja. Kalau program-programnya terus berjalan dan masyarakat dilibatkan, dampaknya pasti jauh lebih besar untuk Berau,” kata Tony.

