Samarinda- Kepungan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membuat kualitas udara di sejumlah kabupaten dan kota di Provinsi Kalimantan Timur memburuk. Masyarakat, khususnya kelompok rentan, diimbau untuk membatasi aktivitas di luar rumah dan mengenakan masker.
Dampak karhutla tersebut mendorong Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Kalimantan Timur untuk memperketat pemantauan kualitas udara ambien. Langkah ini diambil guna memetakan sebaran polutan sekaligus menekan risiko kesehatan masyarakat.
Kepala DLH Kalimantan Timur Joko Istanto mengonfirmasi bahwa lonjakan materi partikulat (particulate matter/PM) dari asap karhutla menjadi pemicu utama melonjaknya Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di wilayahnya.
Kutai Barat Sempat Tembus Status Berbahaya
Joko mengungkapkan, wilayah Kabupaten Kutai Barat, khususnya daerah Sendawar, menjadi salah satu area paling terdampak hingga sempat masuk dalam daftar wilayah berkategori Berbahaya.
Penetapan status tersebut merujuk pada indikator Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Permen LHK) Nomor P.14 Tahun 2020.
“Laju fluktuasi angka partikulat udara sangat krusial untuk diwaspadai. Wilayah Kutai Barat bahkan sempat menembus level Berbahaya akibat terisolasi kabut asap yang pekat,” ujar Joko, senin (12/10/2026).
Selain Kutai Barat, tren penurunan kualitas udara yang signifikan juga terdeteksi di Kabupaten Berau dan Kabupaten Kutai Kartanegara. Hasil pengujian berkala menunjukkan kualitas udara di kedua kawasan tersebut berada pada kategori Tidak Sehat.
Pengerahkan Alat Pemantau hingga ke Lapangan
Guna memastikan data paparan polusi tersaji secara akurat, DLH Kalimantan Timur mengerahkan berbagai perangkat teknologi pemantau udara.
Selain mengandalkan stasiun pemantau otomatis permanen (Air Quality Monitoring System/AQMS Fixed Station) yang terhubung ke jaringan ISPUnet, petugas juga menerjunkan AQMS portabel dan unit manual active sampler langsung ke titik-titik rawan karhutla.
Joko menegaskan bahwa integrasi peralatan ini bertujuan agar data yang diperoleh benar-benar presisi sehingga bisa dijadikan rujukan publik.
“Tim teknis kami di lapangan terus mengoptimalkan pengujian agar data kualitas udara yang terhimpun benar-benar valid, presisi, dan dapat publik akses secara real-time,” terangnya.
Sinergi Mitigasi dan Imbauan Kesehatan
Sebagai langkah penanganan lanjutan, DLH Kalimantan Timur berkoordinasi intensif dengan Kementerian Lingkungan Hidup untuk menekan sumber titik panas (hotspot) dan memitigasi dampak asap.
Di sisi lain, pemerintah daerah mengingatkan warga agar tidak mengabaikan potensi bahaya kesehatan akibat menghirup udara berpolusi. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita gangguan pernapasan diminta ekstra waspada.
“Kami mengimbau warga untuk disiplin menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan. Saat ini, DLH Kalimantan Timur bersama Kementerian Lingkungan Hidup bergerak cepat memitigasi titik-titik pemicu kebakaran agar kepungan asap ini bisa segera diatasi,” tegas Joko.

