SAMARINDA — Surutnya Sungai Mahakam di tengah musim kemarau mulai memukul aktivitas masyarakat yang bergantung pada transportasi sungai. Kapal penumpang dari Samarinda menuju wilayah Mahakam Ulu, Kalimantan Timur, terpaksa berhenti beroperasi karena kondisi alur sungai yang semakin dangkal.

Kondisi ini membuat warga harus beralih menggunakan transportasi darat dengan biaya jauh lebih mahal.

Sadam Husen (36), salah seorang nahkoda kapal rute Mahakam, mengatakan kapal terpaksa berhenti karena khawatir kandas dan membahayakan penumpang.

“Sudah dua minggu kapal ke Mahakam Ulu tidak bisa jalan sama sekali karena air dangkal. Kalau dipaksakan sangat berisiko,” ujar Sadam, Rabu (19/8/2026).

Jika menggunakan kapal, warga biasanya membayar sekitar Rp400.000 per orang. Namun, melalui jalur darat, biaya perjalanan bisa mencapai Rp1 juta.

Terhentinya transportasi sungai membuat masyarakat yang hendak menuju Mahakam Ulu tidak memiliki banyak pilihan.

Sebagian warga kini memilih menggunakan mobil travel. Namun, biaya yang harus dikeluarkan jauh lebih besar dibandingkan ketika masih menggunakan kapal.

“Kalau menggunakan travel mobil bisa sampai Rp1 juta per orang. Kalau kapal biasanya Rp400.000,” kata Sadam.

Kenaikan biaya tersebut tentu menjadi beban tambahan bagi masyarakat. Apalagi jalur darat bukan hanya lebih mahal

Terhentinya pelayaran turut menghambat distribusi kebutuhan pokok ke wilayah pedalaman.

“Kapalnya kan enggak bisa jalan, bagaimana mau mendistribusikan bahan pokok ke sana,” ungkapnya.

Dampak lainnya dirasakan para pekerja kapal. Sadam mengaku kini sementara beralih menjadi sopir travel untuk tetap mendapatkan penghasilan.

“Untuk sementara saya beralih narik mobil travel dulu buat cari pemasukan. Kalau kapal menunggu debit air sungai naik kembali,” pungkas Sadam.