BERAU – Masalah pemadaman listrik di Kabupaten Berau tampaknya masih jauh dari kata selesai. Di tengah ketergantungan wilayah ini pada keandalan pasokan energi, warga Berau kembali harus menerima kenyataan pahit tanpa kepastian akibat tidak stabilnya aliran listrik dalam beberapa waktu terakhir.
Keluhanpun dari masyarakat bawah yang menjadi korban langsung pemadaman mendadak ini. Arip Setyo, salah seorang warga Jl. Cempaka, meluapkan kekecewaannya karena mati lampu yang terjadi tanpa adanya pemberitahuan awal kepada masyarakat.
“Iya mas jengkel juga kita ini mati lampu nda ada informasinya tiba tiba mati, kaya kemaren aja malam mati lampu baru lama lagi ada mungkin 2 jam,” kata Arip.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa pemadaman sepihak seperti ini tidak hanya merusak alat-alat elektronik rumah tangga, melainkan juga melumpuhkan aktivitas dan pekerjaan warga secara mendadak.
“Kalo memang mau di matikan listrik ini setidaknya kasih informasi dulu ke kami kami ini biar nda berusakan barang barang elektronik di rumah sama biar nda menganggu kerjaan mendadak, coba lah pln ini buat solusi apa kah supaya nda sering matikan listrik ini,” keluhnya.
Menanggapi keluhan masyarakat mengenai pemadaman yang kembali melanda Bumi Batiwakkal, pihak PLN angkat bicara.
Bukan karena kendala lokal di PLTU Lati, PLTU Teluk Bayur, atau PLTD Sambaliung, problem kali ini diklaim bersumber dari sistem yang lebih besar.
Manager PLN UP3 Berau, Rizki Rhamdan Yusup, mengungkapkan adanya kendala serius pada jaringan penyuplai utama yang terhubung ke daerah.
“Saat ini terjadi gangguan teknis pada komponen Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) swasta berskala besar di sistem kelistrikan interkoneksi Kalimantan,” ujar Rizki saat dikonfirmasi, Senin (13/7/2026).
Pembangkit swasta tersebut berada di dalam jaringan kelistrikan regional yang menyuplai daya ke wilayah Berau. Imbas dari kendala teknis tersebut, pasokan daya sedia yang dikirimkan ke daerah menjadi merosot.
“Gangguan tersebut menyebabkan berkurangnya daya mampu pembangkit sehingga pasokan listrik ke sistem belum optimal,” jelasnya menambahkan.
Akibat defisit daya pada sistem interkoneksi tersebut, PLN terpaksa mengambil langkah darurat guna menghindari kelumpuhan total pada jaringan grid global Kalimantan. Langkah ini terpaksa diambil demi mempertahankan kestabilan parameter listrik di jaringan regional.
“Untuk menjaga frekuensi dan kestabilan sistem, dilakukan pengaturan operasi secara terbatas dan terukur,” tutup Rizki.
Namun di mata publik, istilah teknis “pengaturan operasi secara terbatas dan terukur” tersebut nyatanya tetap mengorbankan kenyamanan warga.
Sistem interkoneksi Kalimantan yang semula digadang-gadang menjadi solusi jangka panjang, kini justru memperpanjang rantai masalah baru di mana masyarakat Berau lagi-lagi dipaksa pasrah menerima dampak pemadaman bergilir.

