TANJUNG REDEB — Perumda Air Minum Batiwakkal Kabupaten Berau berhasil membalikkan kondisi keuangannya sepanjang 2025. Setelah mencatat kerugian pada tahun sebelumnya, perusahaan daerah ini mampu membukukan laba. Namun, di balik capaian tersebut, target pendapatan yang dipatok dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) masih jauh dari harapan.

Laporan Tahunan Perumda Batiwakkal 2025 mencatat realisasi pendapatan perusahaan mencapai Rp86,50 miliar, atau hanya sekitar 70,09 persen dari target RKAP sebesar Rp123,40 miliar. Artinya, terdapat kekurangan pendapatan sekitar Rp36,9 miliar dibandingkan proyeksi yang telah ditetapkan.

Belum tercapainya target itu dipengaruhi belum optimalnya penerimaan dari sektor pendapatan air, non-air, maupun pendapatan non-usaha. Kondisi tersebut membuat ruang fiskal perusahaan belum sekuat yang diharapkan untuk menopang pengembangan layanan.

Manajemen Perumda Batiwakkal mengungkapkan, salah satu faktor utama yang menyebabkan target pendapatan meleset adalah belum diterapkannya penyesuaian tarif air minum sepanjang 2025. Padahal, kebijakan tersebut telah dirancang sebagai strategi memperkuat kemampuan keuangan perusahaan agar dapat memenuhi prinsip full cost recovery (FCR).

Dengan tarif yang belum disesuaikan, pendapatan perusahaan tidak mampu mengikuti proyeksi yang telah disusun sebelumnya. Akibatnya, target yang dipasang dalam RKAP tidak dapat terealisasi secara maksimal.

Dalam laporan evaluasinya, manajemen menilai penyusunan target pendapatan ke depan perlu dilakukan lebih realistis dengan mempertimbangkan kondisi operasional dan berbagai faktor yang memengaruhi kinerja perusahaan.

“Perbedaan antara target dan realisasi menjadi catatan penting dalam penyusunan rencana kerja ke depan. Evaluasi diperlukan agar proyeksi pendapatan dapat disusun lebih akurat sesuai kondisi lapangan,” demikian tertuang dalam laporan tahunan perusahaan.

Meski pendapatan belum memenuhi target, kondisi keuangan perusahaan justru menunjukkan perbaikan signifikan. Perumda Batiwakkal berhasil mencatat laba sebesar Rp1,53 miliar pada 2025, berbalik dari kerugian Rp4,66 miliar yang dialami pada 2024.

Perubahan tersebut menjadi sinyal membaiknya kesehatan keuangan perusahaan. Efisiensi operasional, pengendalian biaya, serta perbaikan tata kelola menjadi faktor yang mendorong perusahaan keluar dari tekanan kerugian.

Meski demikian, pekerjaan rumah Batiwakkal belum selesai. Sebagai perusahaan daerah yang mengemban layanan publik, tantangan berikutnya bukan hanya menjaga laba, tetapi juga meningkatkan pendapatan agar mampu menopang investasi jaringan, meningkatkan kualitas pelayanan, dan memperluas akses air bersih bagi masyarakat.

Ke depan, perusahaan dituntut menggenjot pertumbuhan jumlah pelanggan, mengoptimalkan pendapatan non-air, menekan tingkat kehilangan air, meningkatkan efisiensi operasional, serta memastikan kebijakan tarif mampu menjaga keseimbangan antara keberlanjutan usaha dan kemampuan masyarakat.

Perbaikan kinerja sepanjang 2025 menjadi pijakan penting bagi Perumda Batiwakkal. Namun, keberhasilan transformasi perusahaan tidak hanya diukur dari keberhasilan mencetak laba, melainkan juga dari kemampuannya mengejar target pendapatan dan membangun fondasi keuangan yang lebih kuat untuk mendukung pelayanan air bersih di Kabupaten Berau. (adv)