BERAU — Keterbatasan jumlah penghulu di Kabupaten Berau menjadi perhatian serius di tengah kebutuhan layanan pernikahan yang terus berjalan. Hingga tahun 2026, jumlah penghulu yang tersedia masih tetap sebanyak 13 orang—setara dengan jumlah kecamatan yang ada di wilayah tersebut.

Kondisi ini membuat setiap kecamatan hanya memiliki satu penghulu, yang secara otomatis harus menangani seluruh proses pelayanan pernikahan di wilayahnya masing-masing. Beban kerja pun menjadi cukup tinggi, terutama di kecamatan dengan jumlah pernikahan yang relatif padat.

Kepala Kemenag Berau, Kabul Budiono, menyampaikan bahwa hingga tahun ini belum ada tambahan tenaga penghulu baru.

“Untuk di 2026 belum ada. Yang terakhir kemarin 2025 yang CPNS,” ungkapnya.

Meski demikian, ia menyebut terdapat tiga orang CPNS formasi 2025 yang saat ini sedang menjalani pelatihan sebagai penghulu.

Di lapangan, jumlah tersebut diakui berada di batas minimal. Namun, pelayanan kepada masyarakat sejauh ini masih berjalan tanpa kendala berarti.

Ia menjelaskan, para penghulu masih mampu mengatur jadwal, bahkan dalam satu hari bisa menangani hingga empat prosesi pernikahan, termasuk di wilayah yang cukup jauh.

Menariknya, di beberapa kecamatan dengan akses yang sulit, pelaksanaan akad nikah terkadang melibatkan imam kampung sebagai pengganti penghulu.

“Di beberapa wilayah, kalau lokasinya cukup jauh dan ada imam kampung, maka pelaksanaan akad bisa dilakukan oleh imam setempat,” jelasnya, Jumat (24/4/26).

Namun, mekanisme tersebut tidak bisa dilakukan sembarangan. Ada ketentuan yang harus dipenuhi, terutama terkait wali nikah.

“Kasus seperti itu sebenarnya jarang terjadi, karena sejauh ini wilayah kita masih bisa dijangkau dan relatif aman,” tambahnya.

Kemenag Berau juga memastikan hingga kini belum ada informasi terkait penambahan penghulu melalui mutasi dari luar daerah.

Meski secara jumlah dinilai masih mencukupi, pihaknya tetap membuka peluang jika ada tambahan tenaga di masa mendatang, terutama untuk membantu wilayah dengan intensitas pernikahan tinggi seperti di perkotaan.

“Saat ini masih bisa dibilang cukup, tapi kalau ke depan ada penambahan tentu kami siap menerima,” pungkasnya.

Dengan kondisi ini, distribusi dan beban kerja penghulu di Berau menjadi tantangan tersendiri, terutama untuk memastikan pelayanan tetap optimal di seluruh wilayah yang memiliki karakter geografis beragam.