BERAU – Ketua Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) Kabupaten Berau, Sri Aslinda Gamalis, menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor untuk mencapai target eliminasi Tuberkulosis (TBC) pada tahun 2030. Hal tersebut disampaikannya dalam peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia yang dirangkai dengan seminar kesehatan di Kabupaten Berau, Selasa (28/4/2026).

Dalam sambutannya, Sri Aslinda menyoroti posisi Indonesia yang kini menempati peringkat kedua global setelah India dalam jumlah kasus TBC. Secara nasional, angka kasus pada tahun 2025 diperkirakan mencapai 800 hingga 900 ribu kasus.

“Khusus di wilayah kita, tercatat ada 708 kasus atau sekitar 52,7 persen dari estimasi kasus yang diperkirakan ditemukan dalam satu tahun. Ini menunjukkan bahwa TBC masih menjadi masalah kesehatan serius yang berdampak nyata pada ketahanan ekonomi keluarga,” ujar Sri Aslinda.

Sri Aslinda mengungkapkan bahwa tantangan terbesar dalam penanggulangan TBC bukan hanya soal medis, melainkan juga stigma sosial yang masih melekat kuat. Stigma ini seringkali membuat penderita merasa malu untuk memeriksakan diri atau tidak tuntas dalam menjalani pengobatan.

Ia juga menceritakan perjuangan berat para tenaga kesehatan dan kader di lapangan yang sering mendapat penolakan saat melakukan kunjungan rumah.

“Saya merasakan betul sulitnya perjuangan teman-teman tenaga kesehatan. Ada yang diusir oleh keluarga pasien, ada yang kesulitan menemukan keberadaan pasien, bahkan ada yang diperlakukan tidak baik saat datang untuk memantau penggunaan obat,” ungkapnya.

Oleh karena itu, ia berpesan kepada masyarakat agar tidak menjauhi penderita. “Mari kita ubah stigma negatif. Kita hanya boleh menjauhi penyakitnya, bukan menjauhi orangnya. Penderita TBC adalah manusia yang perlu dihargai dan didukung agar sembuh,” tegasnya.

Dalam momentum tersebut, Sri Aslinda juga mengajak para mahasiswa dan pelajar untuk menjadi agen perubahan sebagai “Kader Bebas TBC”. Ia mengimbau generasi muda untuk aktif melakukan skrining kesehatan rutin dan menghindari faktor risiko seperti merokok.

Selain itu, ia memberikan apresiasi khusus kepada sektor swasta dan instansi pemerintah yang telah berkolaborasi. Ia menyebut keterlibatan perusahaan seperti PT Berau Coal, Dinas Sosial, serta pihak sekolah dalam mendukung program skrining dan pengobatan karyawan maupun siswa adalah kunci keberhasilan penanganan TBC.

“Keberhasilan penanggulangan TBC tidak bisa dilakukan oleh sektor kesehatan saja. Dibutuhkan keterlibatan aktif semua elemen, mulai dari pemerintah, tokoh masyarakat, pihak swasta, hingga keluarga pasien,” pungkasnya.

Acara peringatan Hari TBC Sedunia tahun ini mengangkat tema “Satu Titik, Sinergi Aksi Tuntaskan Tuberkulosis Hari Ini”, sebagai poin penting untuk meningkatkan kesadaran kolektif menuju Indonesia Bebas TBC 2030. (akti)