BERAU – Munculnya isu kekosongan obat, utang rumah sakit, hingga keterlambatan pembayaran jasa tenaga kesehatan di RSUD Abdul Rivai memicu sorotan luas hingga tingkat nasional, sehingga manajemen rumah sakit memberikan klarifikasi untuk meluruskan informasi yang dinilai berpotensi disalahartikan publik.

Direktur RSUD Abdul Rivai, dr. Jusram, menjelaskan bahwa tiga isu utama yang ramai diberitakan, yakni kekosongan obat, utang rumah sakit, dan keterlambatan pembayaran jasa tenaga kesehatan, memang menjadi perhatian serius. Namun, ia menegaskan kondisi tersebut tidak sampai menghentikan pelayanan kepada masyarakat.

Menurutnya, istilah kekosongan obat perlu dipahami secara tepat. Ia menegaskan bahwa “kosong” tidak berarti obat tidak tersedia sama sekali, melainkan hanya terjadi pada beberapa jenis obat tertentu.

“Kosong itu bukan berarti tidak ada obat. Faktanya, pelayanan tetap berjalan, tidak ada pasien yang kami tolak, dan 13 poli rawat jalan tetap beroperasi seperti biasa,” ujarnya.

Ia menambahkan, dalam praktik medis, tenaga kesehatan memiliki kemampuan untuk melakukan substitusi obat. Artinya, jika satu jenis obat tidak tersedia, masih ada alternatif lain dengan fungsi serupa yang dapat digunakan untuk tetap memberikan pelayanan optimal kepada pasien.

Terkait utang rumah sakit, dr. Jusram mengakui adanya kewajiban yang belum terbayar. Namun, kondisi tersebut dipengaruhi beberapa faktor, di antaranya keterlambatan pembayaran serta proses administrasi dari pihak penyedia (vendor) yang belum lengkap sehingga belum dapat diproses.

Selain itu, ia menyebut peningkatan belanja rumah sakit juga dipicu oleh investasi yang dilakukan dalam beberapa tahun terakhir, baik dari sisi sumber daya manusia maupun pembangunan fisik. RSUD Abdul Rivai, kata dia, telah menambah lebih dari 10 dokter spesialis guna memenuhi kebutuhan layanan kesehatan masyarakat.

“Ini adalah bentuk investasi pelayanan. Memang membutuhkan anggaran besar, tetapi tujuannya untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan,” jelasnya.

Di sisi lain, pembangunan fisik rumah sakit juga turut memengaruhi kondisi keuangan. Ia mengibaratkan bahwa anggaran yang dimiliki rumah sakit tidak hilang, melainkan berubah menjadi aset dalam bentuk infrastruktur dan fasilitas penunjang pelayanan.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa seluruh layanan, baik rawat jalan maupun rawat inap, tetap berjalan normal. Manajemen rumah sakit juga memastikan tidak ada penghentian layanan meskipun dilakukan penyesuaian dalam penggunaan obat.

“Kami pastikan pelayanan tetap berjalan. Tidak ada penghentian layanan, hanya ada penyesuaian dalam penggunaan obat sesuai kondisi yang ada,” tegasnya.