BERAU – Pemadaman lampu penerangan jalan umum di Kabupaten Berau tampaknya masih jauh dari kata tuntas. Seringnya menjadi keluhan warga lampu jalan mati mendadak yang terus menerus terjadi, sementara upaya perbaikan dari pemerintah daerah terganjal oleh keterbatasan anggaran dan mahalnya harga suku cadang.
Salah satu warga sambaliung, RY, mengatakan bahwa seringnya lampu penerangan jalan mati hingga membuat jalan gelap terutama pada lampu jembatan penghubung Tanjung Redeb – Sambaliung.
“Yang paling sering itu di jumbatan, belum lagi sama lubang bulangnya, yang di takutkan itu klo motor yg lampunya rusak kan susah liatnya” jelas RY
Menanggapi persoalan lampu tersebut Kepala Bidang Lalu Lintas Dinas Perhubungan (Dishub) Berau, Aidil, mengakui bahwa penanganan persoalan ini belum bisa berjalan maksimal dan menyeluruh.
“Kalau kita lihat dari tahun 2023 sampai 2025 ini memang sudah menyebar, namun ada saja titik-titik yang belum terpasang. Untuk memenuhi Kabupaten Berau yang tersebar ini, memang belum sepenuhnya terpenuhi,” ujar Aidil saat dikonfirmasi, Senin (8/6/2026).
Menurut Aidil, salah satu biang keladi sering matinya lampu di lapangan dipicu oleh kerusakan komponen vital. Berdasarkan hasil peninjauan dan koordinasi dengan pihak penyedia, mayoritas lampu yang padam disebabkan oleh kerusakan pada sektor baterai.
Kondisi ini diperparah oleh proses perbaikan dari pihak ketiga yang dinilai lambat akibat keterbatasan suku cadang. Ia mencontohkan salah satu penyedia, PT Sepen, yang sempat kewalahan saat melakukan survei di lapangan.
Laporan Membeludak: Awalnya, laporan masyarakat yang masuk melalui foto berbasis GPS mencatat ada seratus lebih titik lampu mati.
Suku Cadang Kurang: Pihak penyedia hanya membawa suku cadang pas-pasan sesuai laporan awal. Begitu tiba di lapangan, jumlah lampu yang mati ternyata jauh melebihi data, sehingga mereka terpaksa mengajukan pengiriman ulang ke kantor pusat.
Kondisi pemeliharaan fasilitas publik ini kian miris jika melihat alokasi anggaran yang dikucurkan Pemkab Berau. Tahun ini, Dishub Berau hanya mendapatkan anggaran pemeliharaan berkisar antara Rp700 juta hingga Rp800 juta.
Padahal, nilai tersebut dinilai sangat tidak ideal mengingat komponen PJUTS jauh lebih mahal dibanding lampu konvensional (AC/PLN), ditambah lagi Berau menggunakan tiga supplier lampu yang berbeda-beda jenisnya.
“Harapan kami, pemerintah daerah dapat memberikan mungkin sekitar kurang lebih Rp3 miliar untuk menyeluruh. Mengingat suku cadang dari PJUTS sendiri itu sangat mahal dan jenisnya macam-macam karena ada tiga supplier yang ikut,” tegas Aidil.
Masa depan penerangan jalan di Berau kian buram setelah adanya kebijakan efisiensi anggaran secara nasional. Aidil tidak menampik kekhawatirannya bahwa pemaksimalan perbaikan lampu jalan akan semakin pincang dan terkendala ke depannya.
Meski dalam waktu dekat ada rencana penambahan titik baru di wilayah Talisayan dan Kota Tanjung Redeb, namun untuk perbaikan total secara menyeluruh di Bumi Batiwakkal, Dishub Berau mengaku angkat tangan jika anggaran perawatan tidak ditambah.

