BERAU — Kepedulian terhadap masyarakat dan para relawan yang berjibaku menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ditunjukkan jajaran Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kabupaten Berau. Mereka turun langsung ke Kampung Labanan, Kecamatan Teluk Bayur, untuk membagikan masker sekaligus menyalurkan bantuan logistik kepada posko penanganan karhutla.

Kegiatan tersebut dihadiri Pembina PSI Berau Indera Teguh, Ketua PSI Berau Mikael Sengiang, Sekretaris PSI Berau Mupit Datusahlan, serta jajaran DPD PSI Kabupaten Berau, DPC dan DPRT Kampung Labanan.

Sekretaris PSI Berau, Mupit Datusahlan, mengatakan Labanan menjadi salah satu wilayah yang terdampak cukup signifikan oleh kebakaran lahan. Kondisi tersebut turut menurunkan kualitas udara dan membuat masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di luar rumah.

“Melihat kondisi Labanan yang cukup terdampak musibah kebakaran lahan, kami mengingatkan masyarakat untuk menggunakan masker dan memperhatikan kondisi udara saat beraktivitas,” ujar Mupit.

Pembagian masker dilakukan di sejumlah titik yang menjadi pusat aktivitas masyarakat, di antaranya Simpang Empat Labanan yang mengarah ke jalan poros Samarinda serta Simpang Empat IKM Labanan.

Kawasan tersebut merupakan jalur yang ramai dilalui masyarakat, baik menuju pasar, sekolah, perkantoran maupun fasilitas publik lainnya.

Tak hanya membagikan masker, rombongan PSI Berau juga menyambangi posko BPBD atau posko penanganan karhutla di Labanan. Bantuan logistik diserahkan sebagai bentuk dukungan moral kepada personel pemadam kebakaran dan relawan yang masih berada di lapangan.

Mupit mengingatkan para relawan agar tidak mengabaikan keselamatan selama menjalankan tugas. Menurutnya, penanganan karhutla tidak boleh membuat petugas justru menjadi korban akibat kelelahan maupun paparan asap.

“Bekerja merupakan tugas dan tanggung jawab, tetapi keselamatan tetap harus menjadi perhatian. Jangan sampai dalam menjalankan tugas penanganan karhutla, ada relawan yang justru mengalami musibah atau tumbang,” katanya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh petugas dan relawan yang terus berupaya memadamkan api serta membantu memulihkan kondisi lingkungan dan kualitas udara di Kabupaten Berau.

“Kami sangat mengapresiasi upaya para petugas di lapangan. Mungkin dukungan kami tidak seberapa, tetapi ini merupakan bentuk kepedulian dan dukungan moral kepada mereka yang terus bekerja,” ujarnya.

PSI Ajak Semua Pihak Menahan Diri

Di tengah kondisi kabut asap yang semakin dirasakan masyarakat, PSI Berau juga mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk pihak-pihak yang tengah melakukan pengolahan lahan maupun aktivitas lainnya yang berpotensi memicu kebakaran, untuk bersama-sama menahan diri.

Mupit menilai kondisi saat ini membutuhkan kehati-hatian dan tanggung jawab bersama. Menurutnya, setiap aktivitas yang berpotensi menimbulkan api harus benar-benar diperhitungkan agar tidak memperburuk situasi.

“Kepada masyarakat dan pihak-pihak yang sedang mengupayakan pengolahan lahan, atau aktivitasnya berpotensi menimbulkan bahaya karhutla, kami mengajak untuk sama-sama menahan diri. Mari kita jaga agar wilayah kita benar-benar dalam kondisi prima,” tegasnya.

Menurut Mupit, persoalan karhutla bukan hanya menyangkut titik api. Dampaknya telah merembet ke berbagai sendi kehidupan masyarakat, terutama akibat kabut asap yang semakin meluas.

“Jangan sampai karena ulah segelintir pihak yang tidak terkontrol, justru sendi-sendi kehidupan kita semua menjadi lumpuh. Perkara asap ini tidak hanya dirasakan di pusat-pusat titik api, tetapi sudah menyelimuti kawasan Kabupaten Berau,” katanya.

Ia menegaskan, upaya menjaga kondisi lingkungan saat ini harus menjadi prioritas bersama. Aktivitas ekonomi tetap penting, namun keselamatan masyarakat dan kondisi lingkungan tidak boleh dikorbankan.

“Setelah kondisi benar-benar aman dan prima, tentu kita bisa kembali melanjutkan upaya menata serta menggerakkan ekonomi. Tetapi untuk saat ini, mari sama-sama menjaga dan menahan diri agar situasi tidak semakin buruk,” lanjutnya.

PSI Berau juga mengingatkan masyarakat agar tidak menyerahkan sepenuhnya persoalan karhutla kepada petugas. Pencegahan kebakaran membutuhkan kesadaran kolektif, mulai dari memastikan aktivitas pengolahan lahan tidak menimbulkan api hingga segera melaporkan apabila menemukan potensi kebakaran.

“Kesadaran itu harus datang dari diri kita masing-masing. Kondisi udara semakin pekat dan dampaknya bisa dirasakan masyarakat. Jangan sampai kita baru peduli ketika sudah mengalami gangguan kesehatan,” pungkas Mupit.