KUTAI KARTANEGARA — Sebelas orangutan yang sebelumnya telah hidup di habitat alami harus kembali menjalani perawatan di kandang setelah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mendekati kawasan Sekolah Hutan di Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.
Titik api dilaporkan berada sekitar 500 meter dari habitat orangutan yang berada di kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Sekolah Hutan, yang dikelola Yayasan Jejak Pulang.
Kondisi tersebut membuat Yayasan Jejak Pulang bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur mengambil langkah pencegahan dengan memindahkan satwa ke lokasi yang dinilai lebih aman.
Sebanyak 11 orangutan dievakuasi ke kandang perawatan di Kilometer 38, Samboja, pada 1 September 2026.
Kepala BKSDA Kalimantan Timur M Ari Wibawanto mengatakan, evakuasi dilakukan karena kebakaran semakin mendekati kawasan habitat.
“Orangutan ini sebelumnya sudah kami lepasliarkan dan mereka sudah hidup di habitatnya. Karena ada ancaman karhutla, kami memilih melakukan evakuasi untuk memastikan keselamatan seluruh satwa,” kata Ari, Saat di konfirmasi, Selasa(15/9/2026).
Menurut Ari, langkah tersebut merupakan upaya pencegahan agar orangutan tidak terkena dampak langsung dari api maupun asap kebakaran.
“Evakuasi ini sifatnya antisipasi. Kami tidak ingin satwa terpapar langsung oleh api atau asap apabila kebakaran semakin meluas dan mendekati habitat,” ujarnya.
Setelah dipindahkan ke lokasi perawatan, kondisi kesehatan 11 orangutan tersebut dipastikan dalam keadaan baik.
Namun, perpindahan dari habitat alami ke kandang membuat terjadi perubahan perilaku pada sejumlah satwa.
Humas Yayasan Jejak Pulang Maria Melani Pedro mengatakan, perubahan perilaku tersebut menjadi salah satu hal yang terus diperhatikan selama orangutan menjalani masa evakuasi.
“Untuk kondisi kesehatan, semuanya dalam keadaan baik. Tetapi memang terlihat ada perubahan perilaku karena sebelumnya mereka sudah terbiasa hidup di habitat, kemudian sekarang harus kembali berada di kandang perawatan,” ujar Maria.
Maria mengatakan, pengelola terus melakukan pemantauan terhadap kondisi masing-masing orangutan selama berada di lokasi evakuasi.
“Kami terus memantau kesehatan dan perilaku mereka selama di lokasi perawatan. Pemantauan ini penting untuk memastikan kondisi mereka tetap baik sampai nantinya kawasan habitat dinyatakan aman,” katanya.
Di sisi lain, perkembangan karhutla di sekitar kawasan Sekolah Hutan juga terus dipantau oleh pengelola bersama pihak terkait.
Evakuasi dilakukan bukan karena habitat orangutan telah terbakar, melainkan sebagai langkah antisipasi karena titik api berada cukup dekat dengan kawasan habitat.
Pengelola berharap kondisi kawasan segera kembali aman sehingga 11 orangutan tersebut dapat dikembalikan ke habitat alaminya.
“Harapannya, ketika kondisi kawasan sudah benar-benar aman, orangutan dapat kembali ke habitatnya dan melanjutkan kehidupan seperti sebelumnya,” kata Maria.

