BERAU – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Berau mengakui alokasi anggaran untuk penanganan drainase dan normalisasi sungai pada tahun ini sangat terbatas. Meskipun harus menghadapi kondisi fiskal yang minim, Bidang Sumber Daya Air (SDA) tetap memprioritaskan pemeliharaan infrastruktur pengairan yang sudah ada.
Kepala Bidang SDA DPUPR Berau, Hendra Pranata, mengungkapkan bahwa hingga saat ini pihaknya belum melakukan rincian total nominal anggaran yang dikucurkan untuk penanganan banjir tahun ini. Bahkan, dirinya menerima informasi bahwa anggaran yang sudah minim tersebut berpotensi bakal dipangkas kembali.
“Tahun ini minim banget lah pokoknya. Belum ada notal-notal juga. Infonya nanti malah mau dipotong lagi. Ya kita maksimalkan saja pembersihannya dulu,” ujar Hendra saat dikonfirmasi, Selasa (26/5/2026).
Hendra menambahkan, keterbatasan anggaran ini juga membuat rencana pembangunan infrastruktur pengendali banjir baru, seperti kolam retensi atau polder perkotaan, belum bisa direalisasikan dalam waktu dekat.
Saat ini, fokus utama dinas adalah melakukan perawatan intensif pada saluran-saluran air yang sudah terbangun agar tetap berfungsi optimal.
“Belum ada tampaknya (pembangunan polder baru). Yang ada-ada saja dulu dibersihkan,” imbuhnya.
Meskipun mengalami kendala anggaran, Hendra membantah jika sistem drainase di Kabupaten Berau disebut memiliki banyak masalah makro.
Menurutnya, pemetaan penanganan banjir di Bumi Batiwakkal sejatinya sudah berjalan pada jalur yang benar, di mana penanganan pada saluran-saluran utama telah rampung dikerjakan.
DPUPR Berau mencatat ada sekitar 26 sistem Sub-Daerah Aliran Sungai (Sub-DAS) utama yang telah ditangani.
Ia mengklaim, intervensi yang dilakukan DPUPR selama ini telah berhasil mengurangi titik banjir secara signifikan di sejumlah kawasan yang dulunya menjadi langganan genangan air.
“Tidak (banyak kendala). Kalau mau disebut yang dulunya banjir sekarang sudah tidak, itu banyak. Terus belum lagi yang memang kalau tidak ditangani sekarang, sudah banjir juga banyak. Kalau untuk penanganan saluran utamanya sudah semua, sekitar 26 sistem Sub-DAS,” papar Hendra.
Meskipun demikian, Hendra tidak menyangkal bahwa pekerjaan rumah penanganan banjir belum sepenuhnya tuntas.
Masih ada beberapa titik lingkungan di Berau yang memerlukan pembenahan sekunder agar luapan air saat curah hujan tinggi bisa dialirkan secara sempurna ke saluran utama.
“Tapi memang masih ada PR di beberapa titik saja,” pungkasnya.

