BERAU – Ketergantungan Kabupaten Berau terhadap pasokan pangan dari luar daerah masih menjadi persoalan yang belum teratasi. Data Dinas Pangan menunjukkan, dari 12 komoditas pangan utama yang dikonsumsi masyarakat, hanya jagung pipilan kering yang mampu dipenuhi produksi lokal, sementara 11 komoditas lainnya masih bergantung pada pasokan dari luar daerah.
Dinas Pangan Kabupaten Berau menjelaskan kebutuhan pangan masyarakat dihitung berdasarkan metodologi yang mengacu pada petunjuk teknis dari Badan Pangan Nasional. Perhitungan tersebut menunjukkan kebutuhan pangan cenderung meningkat pada periode tertentu, terutama menjelang hari besar keagamaan seperti Idulfitri dan Natal.
Analis Ketahanan Pangan Ahli Pertama Dinas Pangan Berau, Muhammad Arsyad, menyebut kebutuhan beras masyarakat Berau rata-rata mencapai sekitar 2.000 ton per bulan atau sekitar 24.000 ton sepanjang 2026. Sementara kebutuhan jagung pipilan kering berkisar 300–400 ton per bulan, kedelai 140–155 ton, bawang merah 73–81 ton, dan bawang putih 62–70 ton per bulan.
Kebutuhan sejumlah komoditas lainnya juga tergolong besar. Cabai besar atau cabai keriting berada di kisaran 27–30 ton per bulan, cabai rawit 63–72 ton, daging ayam ras 358–415 ton, telur ayam ras 327–384 ton, gula pasir 185–210 ton, serta minyak goreng 372–427 ton per bulan.
Menurut Arsyad, lonjakan paling mencolok terjadi pada komoditas daging sapi. Dalam kondisi normal kebutuhan daging sapi berkisar 50 ton per bulan, namun pada Mei lalu yang bertepatan dengan Iduladha, kebutuhannya melonjak hingga 148 ton atau hampir tiga kali lipat dari kebutuhan biasa.
“Khusus di bulan Mei kemarin yang memang ada Iduladha hari raya kurban itu 148 ton, 3 kali lipat ya dari kebutuhan normalnya,” ujarnya, Kamis (10/6/2026).
Untuk kebutuhan tahunan, Dinas Pangan memproyeksikan kebutuhan jagung pipilan kering mencapai sekitar 5.400 ton, kedelai 1.800 ton, bawang merah 904 ton, bawang putih 787 ton, cabai besar 352 ton, cabai rawit 814 ton, serta daging sapi 741 ton. Angka kebutuhan daging sapi tersebut belum memasukkan konsumsi saat Iduladha yang menurutnya dapat mendorong kebutuhan hingga melampaui 1.000 ton.
“Ini di luar Iduladha karena Iduladha sendiri kan dia sudah seribu lebih, karena memang itu situasi ya, pada saat memang orang berkurban, jadi tidak dihitung secara rata-rata,” jelasnya.
Sementara itu, kebutuhan tahunan daging ayam ras diperkirakan mencapai 4.601 ton, telur ayam ras 4.063 ton, gula pasir 2.377 ton, dan minyak goreng 4.774 ton.
Data tersebut sekaligus memperlihatkan masih terbatasnya kemampuan sektor pertanian dan pangan daerah dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Arsyad mengakui produksi lokal belum mampu mengejar tingginya permintaan, bahkan untuk komoditas yang sebenarnya berpotensi diproduksi di Berau seperti beras.
“Berarti produksi kita kurang di sini, belum mampu. Kalau bawang putih, gula, sama minyak goreng ya memang kita enggak ada sama sekali di sini,” katanya.
Ia menambahkan, secara potensi Berau sebenarnya mampu memproduksi beras untuk memenuhi kebutuhan daerah. Namun hingga saat ini produksi petani lokal masih belum mencapai tingkat yang dibutuhkan sehingga pasokan dari luar daerah tetap menjadi penopang utama.
Meski demikian, Dinas Pangan menilai ketersediaan pangan masyarakat masih dalam kondisi aman karena ditopang oleh kombinasi produksi lokal dan pasokan dari luar daerah yang volumenya jauh lebih besar.
“Dari produksi lokal yang ada ditambah memang lebih besar pemasokan dari luar itu sudah cukup sih untuk masyarakat dari perhitungan kita,” ujarnya.
Saat ini sebagian besar kebutuhan pangan Berau dipasok dari Jawa dan Sulawesi. Komoditas daging ayam, telur ayam ras, dan daging sapi banyak didatangkan dari Sulawesi serta sebagian dari Jawa melalui peti kemas. Komoditas sayuran juga dipasok dari Sulawesi melalui jalur laut Teluk Sulaiman, sementara minyak goreng berasal dari Samarinda maupun Jawa melalui jaringan distributor yang beroperasi di Berau.

