BERAU, IT-NEWS.ID – Minat baca masyarakat di Kabupaten Berau pada 2026 dinilai mengalami peningkatan. Namun, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Berau masih menghadapi sejumlah tantangan dalam menjalankan program unggulan, terutama layanan perpustakaan keliling yang menjangkau wilayah pelosok.

 

Kepala Bidang Pengolahan, Layanan dan Pelestarian Bahan Perpustakaan Dispusip Berau, Arliana, mengatakan layanan perpustakaan keliling menjadi salah satu upaya untuk mendekatkan akses bacaan kepada masyarakat, khususnya anak-anak di kampung-kampung.

 

Menurutnya, kunjungan menggunakan bus perpustakaan keliling mendapat sambutan positif dari anak-anak di wilayah yang mereka datangi. Kehadiran layanan tersebut menjadi kesempatan bagi mereka untuk mengenal dan membaca berbagai koleksi buku.

 

“Antusias anak-anak dari sana sangat besar. Mereka menyambut baik ketika kami datang ke kampung-kampung,” ujarnya kepada IT-NEWS.ID, Selasa (20/10/2026).

 

Meski demikian, keterbatasan anggaran bahan bakar minyak (BBM) menjadi salah satu kendala dalam menjalankan program tersebut. Padahal, jangkauan hingga ke wilayah pelosok membutuhkan biaya operasional agar layanan dapat menjangkau lebih banyak masyarakat.

 

Arliana menjelaskan, keterbatasan BBM membuat pihaknya harus menyesuaikan tujuan kunjungan. Dalam kondisi tertentu, layanan perpustakaan keliling lebih difokuskan ke wilayah kecamatan yang lokasinya berdekatan.

 

“Kalau ada BBM, ayo ke mana saja kita. Satu liter saja sudah mahal. Asal ada uang BBM, pasti kita gas,” ungkapnya.

 

Selain mengandalkan layanan perpustakaan keliling, Dispusip Berau juga memiliki program untuk menghidupkan perpustakaan di 100 kampung. Program ini ditujukan untuk memperluas akses bahan bacaan sehingga masyarakat tidak harus selalu datang ke perpustakaan daerah.

 

Melalui program tersebut, perpustakaan kampung diharapkan dapat menjadi tempat masyarakat, terutama anak-anak, memperoleh bahan bacaan dan meningkatkan kebiasaan membaca di lingkungan masing-masing.

 

Namun, pelaksanaan program tersebut belum sepenuhnya berjalan optimal. Arliana menyebut masih terdapat perpustakaan kampung yang aktif, sementara sebagian lainnya belum menunjukkan aktivitas sesuai harapan, meskipun telah mendapatkan bantuan.

 

“Sudah kita bantu, padahal ada honornya dari ADK. Tapi, ya, tidak semua kampung bergerak,” pungkasnya.

 

Ia berharap keberadaan perpustakaan kampung dapat dimanfaatkan dan dikelola secara aktif agar program peningkatan minat baca di Kabupaten Berau berjalan lebih merata. Dengan begitu, upaya memperluas akses literasi tidak hanya bergantung pada kunjungan bus perpustakaan keliling, tetapi juga didukung oleh aktivitas perpustakaan di setiap kampung.