BERAU – Lambannya realisasi pembangunan sirkuit balap di Kabupaten Berau kembali mendapat sorotan. Departemen Olahraga DPD PSI Berau yang juga Sekretaris Ikatan Motor Indonesia (IMI) Berau, Mu’min, menilai pemerintah daerah belum menunjukkan progres nyata meski rencana pembangunan sirkuit telah bergulir sejak beberapa periode kepemimpinan.
Menurut Mu’min, hingga saat ini para pegiat otomotif dan atlet balap di Berau masih menunggu kepastian realisasi pembangunan fasilitas yang dinilai sangat penting untuk pembinaan atlet maupun pengembangan olahraga otomotif di daerah.
“Rencana pembangunan sirkuit ini sudah dibahas sejak beberapa tahun lalu dan telah melewati pergantian kepemimpinan daerah. Namun sampai sekarang belum ada progres yang benar-benar bisa dilihat masyarakat, khususnya para atlet dan komunitas otomotif,” kata Mu’min, Kamis, 12 Juni 2026.
Ia menilai Berau memiliki banyak pembalap berbakat yang mampu bersaing di tingkat nasional hingga internasional. Namun potensi tersebut dinilai belum mendapat dukungan fasilitas yang memadai.
“Berau banyak melahirkan atlet-atlet berbakat. Bahkan ada yang sudah membawa nama daerah hingga ke level nasional dan internasional. Sayangnya, perhatian terhadap pembinaan dan fasilitas pendukung masih sangat minim,” ujarnya.
Mu’min mengungkapkan, hingga saat ini sebagian atlet otomotif Berau masih melakukan latihan secara mandiri di kawasan lahan parkir Stadion Mini Teluk Bayur. Keterbatasan fasilitas membuat para pembalap harus beradaptasi dengan kondisi yang ada sembari mempersiapkan diri menghadapi berbagai kejuaraan.
“Anak-anak masih berlatih secara mandiri di area parkir Stadion Mini Teluk Bayur. Ini menunjukkan semangat mereka untuk berprestasi sangat besar, meskipun sarana yang tersedia masih jauh dari ideal,” katanya.
Menurut dia, para atlet otomotif Berau juga tengah mempersiapkan diri menghadapi sejumlah agenda penting, termasuk Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) sebagai bagian dari pemantapan kemampuan dan evaluasi performa menjelang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kalimantan Timur 2026 yang dijadwalkan berlangsung di Kabupaten Paser pada November mendatang.
“Kejurprov menjadi bagian dari persiapan atlet untuk melihat sejauh mana kemampuan mereka sebelum turun di Porprov 2026. Karena itu pembinaan dan dukungan fasilitas seharusnya menjadi perhatian serius pemerintah daerah,” ujarnya.
Mu’min mengatakan keberadaan sirkuit bukan hanya untuk menggelar perlombaan, melainkan menjadi sarana pembinaan atlet secara berkelanjutan. Selain itu, fasilitas tersebut juga dinilai dapat menjadi solusi untuk menekan praktik balap liar yang masih terjadi.
“Ketika anak-anak muda tidak memiliki tempat yang aman dan resmi untuk menyalurkan hobi serta bakatnya, maka risiko munculnya balap liar akan selalu ada. Karena itu pemerintah harus hadir melalui penyediaan fasilitas yang memadai,” katanya.
Sebagai pengurus olahraga dan organisasi otomotif, Mu’min mengingatkan agar pembangunan sirkuit tidak hanya menjadi janji yang terus diulang setiap momentum politik.
“Jangan sampai olahraga otomotif hanya dijadikan alat politik. Atlet-atlet kita membutuhkan pembinaan yang nyata, bukan sekadar janji. Mereka sudah berjuang membawa nama Berau di berbagai kejuaraan, sehingga sudah seharusnya mendapat dukungan yang serius dari pemerintah daerah,” ujarnya.
Ia berharap Pemerintah Kabupaten Berau segera memberikan kepastian terkait tahapan pembangunan sirkuit, termasuk lokasi, penganggaran, serta target pelaksanaan proyek tersebut.
“Yang dibutuhkan hari ini adalah kepastian dan langkah konkret. Kami ingin melihat adanya progres yang jelas sehingga para atlet dan komunitas otomotif memiliki harapan bahwa sirkuit yang selama ini dijanjikan benar-benar akan terwujud,” kata Mu’min.

