BERAU — Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) resmi mengakhiri peringatan dini tsunami pascagempa berkekuatan magnitudo 7,6 yang mengguncang wilayah Sulawesi Utara dan Maluku Utara, Kamis (2/4/2026).

Melansir kumparanNEWS, Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyampaikan bahwa peringatan tsunami dicabut setelah tidak ditemukan adanya kenaikan muka air laut yang membahayakan.

“Dengan memperhatikan kondisi terkini terkait hasil observasi di beberapa wilayah terdampak, tidak ada lagi kenaikan air laut signifikan. Maka peringatan dini tsunami dinyatakan berakhir pada pukul 09.56 WIB,” ujarnya.

BMKG sebelumnya mencatat tinggi gelombang tsunami di sejumlah titik berada di bawah 1 meter. Hingga pukul 09.50 WIB, tercatat sebanyak 48 kali gempa susulan, dengan kekuatan terbesar mencapai magnitudo 5,5.

Namun, berakhirnya ancaman tsunami bukan berarti situasi sepenuhnya aman. Di sejumlah wilayah, dampak lanjutan justru mulai terasa. Getaran kuat yang terjadi sejak pagi hari meninggalkan jejak kerusakan, memicu kepanikan warga, hingga mengganggu aktivitas masyarakat di kawasan terdampak.

Di Gorontalo, misalnya, sejumlah ruas jalan dilaporkan mengalami longsor. Tanah yang labil akibat guncangan membuat akses transportasi terganggu, sementara tim di lapangan berpacu dengan waktu untuk memastikan jalur distribusi tetap bisa dilalui.

Menteri PUPR RI, Dody Hanggodo, menyebut pihaknya telah menurunkan tim untuk menangani dampak tersebut.

“Di Gorontalo ada beberapa ruas jalan terdampak longsor. Kami sedang berkoordinasi dengan BPBD, BMKG, dan Basarnas untuk penanganan cepat di lapangan,” jelasnya.

Ia menambahkan, apabila ditemukan kerusakan infrastruktur yang lebih serius seperti jalan putus atau jembatan rusak, pemerintah akan segera mengambil langkah darurat, termasuk pembangunan jembatan sementara untuk menjaga distribusi logistik tetap berjalan.

Sementara itu, di Manado, suasana duka menyelimuti warga. Satu orang dilaporkan meninggal dunia akibat tertimpa reruntuhan bangunan, sementara satu korban lainnya mengalami patah kaki. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa dampak gempa tidak hanya berhenti pada saat guncangan terjadi, tetapi juga berlanjut pada risiko kerusakan yang ditinggalkan.

BMKG memastikan akan terus memantau aktivitas gempa susulan yang masih berpotensi terjadi, serta berkoordinasi dengan pemerintah daerah guna mengantisipasi dampak lanjutan.

Di tengah situasi ini, masyarakat diimbau tetap waspada namun tidak panik. Sebab, meskipun ancaman tsunami telah berakhir, dinamika alam pascagempa masih bisa menghadirkan risiko lain yang tidak kalah berbahaya.(*)