NTT – Gempa bumi bermagnitudo 4,7 mengguncang Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (9/4/2026) dini hari. Hingga siang hari, puluhan gempa susulan masih terus terjadi.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat episentrum gempa berada di koordinat 8,36 derajat lintang selatan dan 123,15 derajat bujur timur, dengan kedalaman lima kilometer.

Kepala Stasiun BMKG NTT, Arief Tyastama, menjelaskan bahwa gempa tersebut tergolong gempa dangkal yang dipicu oleh aktivitas sesar aktif.

“Gempa ini termasuk gempa dangkal akibat pergerakan sesar aktif,” ujarnya dikutip dari Beritasatu.com.

Guncangan gempa dilaporkan dirasakan hingga Kota Larantuka dan Kabupaten Lembata. Hingga pukul 10.00 WITA, BMKG mencatat telah terjadi sekitar 60 gempa susulan.

Meski demikian, BMKG memastikan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami karena sumber gempa berada di darat.

“Gempa ini tidak cukup kuat untuk memicu tsunami,” tegasnya.

Dampak gempa menyebabkan kerusakan di sejumlah wilayah. Sebanyak 79 bangunan, termasuk rumah dan sekolah di Pulau Solor dan Pulau Adonara, dilaporkan mengalami kerusakan.

Sementara itu, melansir Antara, Bupati Flores Timur, Anton Doni, menyebut kerusakan terparah berada di Desa Terong dan Desa Lamahala.

“Sementara ini kami mendapat laporan, kondisi terparah ada di Desa Terong dan Desa Lamahala,” ujarnya.

Ia merinci, sebanyak 69 rumah rusak berada di Desa Terong, sementara sisanya tersebar di Desa Lamahala. Data tersebut masih bersifat sementara dan dapat berubah seiring pendataan di lapangan.

Pemerintah daerah bersama BPBD telah menerjunkan tim ke lokasi untuk melakukan identifikasi kerusakan dan kebutuhan penanganan darurat.

Selain itu, Pemkab Flores Timur juga mulai menyalurkan bantuan awal berupa terpal dan tenda bagi warga terdampak.

“Kami segera menyiapkan kebutuhan darurat lainnya,” tambah Anton.

Pemerintah setempat terus memperbarui data dan memastikan penanganan darurat berjalan optimal di wilayah terdampak gempa.