KUTAI TIMUR — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Jalan KH Abdullah, Gang Sehati II, RT 49, Desa Sangatta Utara, Kecamatan Sangatta Utara, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, kembali meluas setelah diduga dipicu sisa api dari kebakaran sebelumnya, Sabtu (17/10/2026).
Kebakaran tersebut menghanguskan sekitar lima hektare lahan semak belukar. Hingga Jumat petang, api masih menyala di bagian tengah lahan gambut yang sulit dijangkau petugas, meskipun titik api di Gang Sehati II telah berhasil dikendalikan sekitar pukul 18.00 Wita.
Upaya pemadaman terkendala angin kencang, kondisi tanah gambut, serta medan yang menyulitkan petugas mencapai sumber api. Gangguan komunikasi dan sinyal di lokasi juga menjadi kendala koordinasi tim gabungan.
Kapolres Kutai Timur AKBP Aryansyah melalui Kapolsek Sangatta Utara AKP Bambang Eko mengatakan, penanganan kebakaran melibatkan berbagai unsur untuk mencegah api meluas, terutama ke kawasan yang berbatasan dengan permukiman.
“Personel gabungan telah melakukan upaya pemadaman sejak tiba di lokasi. Namun, kondisi lahan gambut, angin yang bertiup kencang, serta titik api di bagian tengah yang sulit dijangkau menjadi kendala dalam proses pemadaman,” ujar Bambang Eko.
Api Kembali Menyala di Lahan Gambut
Berdasarkan laporan petugas di lapangan, titik api pertama kali terpantau sekitar pukul 11.40 Wita di Gang Sehati II. Kebakaran diduga berasal dari sisa api kejadian sebelumnya di Gang Zainal Abidin, RT 49, yang kembali menyala di bawah semak-semak kering pada lahan gambut.
Personel gabungan tiba di lokasi sekitar pukul 12.30 Wita dan mulai melakukan pemadaman sepuluh menit kemudian. Namun, sekitar pukul 16.20 Wita, angin kencang membuat api kembali meluas ke arah semak belukar yang berbatasan dengan Jalan Guru Besar.
Kondisi medan membuat petugas kesulitan menjangkau bagian lahan yang terbakar. Setelah titik api di Gang Sehati II berhasil dikendalikan, tim melakukan evaluasi dan survei jalur untuk menentukan strategi pemadaman lanjutan dengan fokus pada area yang mengarah ke Jalan Guru Besar.
“Penanganan terus dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi di lapangan. Kami mengutamakan upaya pengendalian agar api tidak merambat lebih luas dan membahayakan masyarakat,” katanya.
Tim Gabungan Kerahkan Armada Pemadam
Pemadaman melibatkan personel TNI-Polri, BPBD Kutai Timur, petugas pemadam kebakaran, Masyarakat Peduli Api (MPA), relawan, pihak perusahaan, dan warga setempat.
Sejumlah armada turut dikerahkan, yakni dua unit mobil pemadam kebakaran BPBD Kutai Timur, satu unit mobil pemadam dari Yonif Teritorial Pembangunan (Yon TP), satu kendaraan suplai air, serta kendaraan power supply dari PT KPC dan PT Pama/Indominco.
Puluhan personel terlibat dalam operasi tersebut, termasuk anggota Polsek Sangatta Utara dan Polres Kutai Timur, Bhabinkamtibmas, personel Koramil Sangatta Utara, petugas BPBD dan pemadam kebakaran, relawan Laskar Kebangkitan Kutai (LKK), tim MPA, serta personel Yon TP.
Hingga laporan terakhir sekitar pukul 18.10 Wita, api masih menyala di bagian tengah lahan yang belum dapat dijangkau tim. Petugas terus mengevaluasi kondisi lapangan untuk menentukan langkah penanganan berikutnya.
Dalam kejadian tersebut, tidak dilaporkan adanya korban jiwa maupun personel yang mengalami kerugian. Luas lahan semak belukar yang terbakar diperkirakan mencapai lima hektare, sedangkan penyebab kebakaran masih berupa dugaan berdasarkan kondisi di lapangan.
Warga Diimbau Tidak Membakar Lahan
Bambang Eko mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan, khususnya saat cuaca panas dan angin bertiup kencang. Warga juga diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api agar petugas dapat melakukan penanganan sedini mungkin.
“Kami mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan pembakaran lahan. Api yang terlihat kecil bisa kembali menyala di lahan gambut dan menyebar ketika tertiup angin kencang,” tegasnya.
Kondisi kebakaran di Sangatta Utara menjadi pengingat bahwa api yang tampak telah padam masih berpotensi menyala kembali, terutama di lahan gambut dan area yang dipenuhi vegetasi kering. Karena itu, pemantauan lanjutan diperlukan untuk memastikan api benar-benar terkendali dan tidak kembali meluas.

