BERAU, IT-NEWS.ID – Air Sungai Siduung di wilayah Kecamatan Segah, Kabupaten Berau, mendadak jernih hingga dasar sungai terlihat. Perubahan yang terekam dalam video warga pada 16 Oktober 2026 itu disertai laporan banyak ikan ditemukan mati, mulai dari ukuran kecil hingga besar.

Kondisi tersebut memunculkan dugaan masyarakat adanya gangguan kualitas air. Diungkapkan oleh Galih, Sekdes Labanan Makarti yang menjelaskan kondisi tersebut kiara-kira sudah terjadi dua kali.

“Setau kami baru 2 kali terjadi seperti ini, kalau dugaan dari warga hanya karrna perubahan cuaca dari kemarau panjang dan memasuki musim hujan” Ungkapnya pada tim it-news.id, Jumat (06/11/2026).

Dikonfirmasi kepada Kepala UPTD Laboratorium Lingkungan DLHK Berau, Beben Agus Tri Hariyanto, menyampaikan hasil pemeriksaan sampel yang diambil pada 20 Oktober 2026 di tiga titik, yakni hulu, dermaga, dan muara Sungai Siduung, menemukan sejumlah parameter yang perlu diperhatikan.

Salah satunya tingkat keasaman air di muara yang tercatat pH 4,75. Angka tersebut berada di bawah rentang pembanding 6–9.

“Hulu dan dermaga berada dalam rentang pH 6–9. Muara memiliki pH 4,75, sehingga air bersifat asam dan berada di bawah rentang pembanding tersebut,” jelasnya, Jumat (06/11/2026).

Kadar oksigen terlarut atau Dissolved Oxygen (DO) di muara tercatat 3,77 mg/L. Sementara di bagian hulu 4,71 mg/L dan dermaga 6,36 mg/L.

Beben menjelaskan, kadar oksigen di muara tersebut sedikit di bawah batas minimum kelas 2 dan berpotensi memberikan tekanan terhadap kehidupan ikan.

“DO sebesar 3,77 mg/L dapat menjadi kondisi yang menekan sebagian ikan, terutama jenis yang sensitif terhadap kekurangan oksigen. Namun, dampaknya bergantung pada spesies ikan, durasi paparan, suhu, serta kondisi perairan lainnya,” jelasnya.

DLHK juga menemukan kandungan seng terlarut di bagian hulu sebesar 0,51 mg/L. Meski nilai TSS di ketiga titik relatif rendah, hasil tersebut belum cukup untuk menjelaskan penyebab perubahan air dan kematian ikan.

“Temuan tersebut layak menjadi dasar pemeriksaan lanjutan, tetapi belum cukup untuk menetapkan penyebab kematian ikan atau menyimpulkan adanya pencemaran dari sumber tertentu,” tutupnya.

Selain pengambilan sampel pada saat kejadian oleh DLHK Berau, Diskan Berau menyebut juga mengambil sampel pasca kejadian.

Diwawancarai terpisah, Kepala Bidang Budidaya Dinas Perikanan (Diskan) Kabupaten Berau, Budiono, menyampaikan hasil pengukuran kualitas air yang dilakukan pihaknya pada Sabtu, 24 Oktober 2026, di enam titik perairan Sungai Segah.

Enam titik tersebut meliputi Sungai Tasuk, Sungai Siagung, Siduung Muara, Siduung Indah, Pura Muara, dan Sungai Pura bagian tengah.

Berdasarkan pengukuran langsung di lapangan, parameter fisik dan kimia seperti kecerahan, arus, bau, pH, DO, salinitas, nitrat, nitrit, amonium, dan fosfat secara umum menunjukkan kondisi normal.

“Secara keseluruhan kualitas air masih berada dalam standar baku mutu air berdasarkan PP RI Nomor 22 Tahun 2021 tentang standar baku mutu air kelas 1,” ungkapnya.

Meski demikian, terdapat kadar fosfat yang agak tinggi di dua titik, yakni Sungai Pura bagian tengah dan Sungai Siagung.

Budiono juga menjelaskan, saat pengukuran dilakukan, perubahan warna air seperti yang sempat dilaporkan masyarakat sudah tidak ditemukan.

“Pada saat pengukuran kualitas air di enam titik tidak terjadi perubahan warna air. Pengukuran dilakukan pada hari Sabtu tanggal 24 Oktober 2026,” ungkapnya.

Diskan menyebut akan melakukan pengujian laboratorium terhadap parameter TDS, BOD, COD, serta organ dalam ikan untuk melengkapi pemeriksaan kualitas air dan mengetahui kemungkinan dampaknya terhadap biota perairan.