BERAU – Peningkatan kualitas data menjadi sorotan dalam pelaksanaan Bimbingan Teknis (Bimtek) pengolahan data Indeks Desa (ID) Tahun 2026 yang digelar Pemerintah Kabupaten Berau di Ruang Sangalaki, Selasa (21/4/2026). Kegiatan ini melibatkan sekitar 100 kasi pemerintahan kampung sebagai ujung tombak penginputan data di tingkat desa.

Sekretaris Kabupaten Berau, Muhammad Said, menegaskan pentingnya akurasi dalam proses pengisian data. Ia mengingatkan agar seluruh informasi yang dimasukkan benar-benar mencerminkan kondisi riil di lapangan.

“Data harus valid dan bisa dipertanggungjawabkan. Jangan sampai tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya, karena ini akan memengaruhi arah kebijakan pembangunan,” tegasnya di kutip dari Prokopim pada Selasa (21/04/2026).

Penekanan tersebut sejalan dengan penerapan Indeks Desa (ID) sebagai indikator tunggal pembangunan desa sejak 2025, menggantikan Indeks Desa Membangun (IDM). Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung (DPMK) Berau, Tentram Rahayu, menjelaskan bahwa ID mencakup enam dimensi utama, yakni layanan dasar, sosial, ekonomi, lingkungan, aksesibilitas, serta tata kelola pemerintahan.

“Dalam Indeks Desa terdapat enam dimensi utama, yaitu layanan dasar, sosial, ekonomi, lingkungan, aksesibilitas, dan tata kelola pemerintahan. Seluruh data akan dikumpulkan ke Kementerian Desa melalui tahapan pengukuran, verifikasi, dan validasi hingga 30 Juli 2026,” jelasnya.

Melalui penerapan indeks ini, pemerintah daerah menargetkan proses pembangunan kampung menjadi lebih efektif dan efisien karena berbasis data yang terintegrasi. Secara capaian, perkembangan status desa di Berau juga menunjukkan tren positif. Jumlah desa berkembang menurun dari 39 menjadi 30, desa maju meningkat dari 42 menjadi 47, dan desa mandiri naik dari 19 menjadi 22. Sejak 2024, tidak ada lagi desa berstatus tertinggal, meskipun selisih nilai antarstatus masih relatif tipis.

Ke depan, DPMK Berau menargetkan peningkatan status desa dengan mendorong Kampung Suaran dan Giring-Giring menjadi desa mandiri, serta Kampung Merancang Ilir, Samburakat, dan Teluk Sumbang naik menjadi desa maju.

Di sisi lain, tantangan berupa pengurangan alokasi dana kampung turut menjadi perhatian. Pemerintah kampung didorong untuk lebih optimal dalam menggali dan memanfaatkan potensi lokal demi menjaga keberlanjutan pembangunan di wilayah masing-masing.