TANJUNG SELOR— Maraknya kasus bunuh diri yang terjadi belakangan ini mengejutkan masyarakat, khususnya di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. Salah satu peristiwa terbaru terjadi di Kecamatan Tanjung Palas Timur, di mana seorang pria berinisial H ditemukan meninggal dunia dalam kondisi tergantung di kamar rumahnya.
Kejadian tersebut tidak hanya menggegerkan warga setempat, tetapi juga memicu perbincangan luas di media sosial. Banyak masyarakat mempertanyakan alasan di balik tindakan ekstrem tersebut dan mengapa jalan pintas seperti mengakhiri hidup dipilih sebagai solusi.
Psikolog Bulungan, Amalia Laili Barokah, mengungkapkan bahwa fenomena ini memiliki banyak faktor penyebab dan tidak bisa disederhanakan hanya sebagai akibat depresi semata. Ia mengaku telah mengetahui beberapa kasus serupa, terutama di wilayah Tarakan, sementara kasus di Bulungan baru belakangan ia ketahui.
“Penyebab bunuh diri tidak mesti depresi. Ada banyak faktor, tetapi umumnya berkaitan dengan ketidaksanggupan menghadapi tekanan, rasa putus asa, kesedihan berkepanjangan, hingga kondisi hidup yang berada di titik paling sulit,” jelas Amalia saat ditemui pada Selasa (28/4).
Menurutnya, tindakan bunuh diri sering kali bukan karena keinginan untuk mati, melainkan dianggap sebagai jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi. Ia menyoroti bahwa saat ini banyak kasus dipicu oleh persoalan sosial, terutama masalah ekonomi seperti utang, pinjaman online, hingga judi daring.
“Banyak yang merasa tidak punya jalan keluar lagi, terutama karena tekanan ekonomi. Ini yang membuat mereka melihat bunuh diri sebagai solusi,” ujarnya.
Amalia juga mengingatkan adanya fenomena peniruan atau copycat suicide, di mana seseorang terdorong melakukan hal serupa setelah terpapar informasi atau pemberitaan tentang kasus bunuh diri. Ia menilai penyajian informasi yang tidak bijak dapat memicu emosi pembaca.
“Ketika sebuah artikel terlalu detail menceritakan sebab dan cara, apalagi ditambah narasi yang menyentuh, pembaca bisa ikut terbawa perasaan dan berpotensi meniru,” tambahnya.
Terkait tanda-tanda seseorang yang berpotensi melakukan bunuh diri, Amalia mengatakan hal tersebut tidak selalu mudah dikenali. Ada individu yang tampak biasa saja, bahkan terlihat ceria, sebelum akhirnya melakukan tindakan tersebut. Namun, beberapa gejala umum tetap perlu diwaspadai, seperti menarik diri dari lingkungan atau menunjukkan perubahan perilaku drastis.
Ia menekankan pentingnya peran lingkungan sekitar dalam pencegahan. “Perhatikan orang-orang di sekitar kita, terutama yang mulai jarang berinteraksi. Didekati, diajak bicara. Kepedulian sederhana bisa sangat berarti,” katanya.
Masalah ekonomi juga dinilai sebagai tantangan terbesar dalam upaya pencegahan. Amalia berharap adanya peran aktif dari pemerintah dan masyarakat, termasuk dukungan dari tingkat lingkungan seperti RT, untuk membantu warga yang mengalami kesulitan.
“Pemerintah perlu hadir, baik dari sisi pencegahan maupun penanganan. Misalnya dengan kebijakan yang tidak memberatkan masyarakat, serta penertiban pinjaman online ilegal dan judi daring,” jelasnya.
Ia juga menyoroti fakta bahwa sebagian besar korban bunuh diri adalah laki-laki. Hal ini, menurutnya, berkaitan dengan budaya maskulinitas yang membuat laki-laki cenderung menutup diri dan enggan menunjukkan kelemahan.
“Ada tekanan untuk selalu terlihat kuat. Akibatnya, masalah dipendam sendiri. Padahal jika mereka mau terbuka, kemungkinan besar akan mendapat bantuan,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Amalia juga mengimbau media agar lebih berhati-hati dalam memberitakan kasus bunuh diri. Ia menegaskan pentingnya mengedepankan nilai kemanusiaan dan tidak menyebarkan detail sensitif seperti surat terakhir korban atau metode yang digunakan.
Sebagai langkah pencegahan, ia menyarankan masyarakat untuk menjaga kesehatan mental dengan menerima ketidaksempurnaan hidup dan tidak memaksakan diri mengontrol segala hal.
“Tidak semua hal bisa kita kendalikan. Hari yang buruk bukan berarti hidup kita buruk. Jika merasa tertekan, jangan ragu untuk mencari bantuan, baik ke teman, keluarga, maupun profesional,” pesannya.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya kegiatan spiritual sebagai salah satu cara menenangkan diri, meskipun bukan satu-satunya solusi.
“Ibadah bisa membantu menenangkan, tapi bukan berarti semua masalah selesai. Depresi bukan soal kurang iman, melainkan kondisi mental yang perlu dipahami dan ditangani dengan tepat,” tutup Amalia. (Lia)

