TANJUNG SELOR – Tradisi Lepa Ajau atau pesta panen yang menjadi bagian dari budaya masyarakat Suku Dayak di Kabupaten Bulungan terus terjaga hingga kini. Di Desa Metun Sajau, Kecamatan Tanjung Palas Timur, tradisi ini rutin digelar setiap usai musim panen padi sebagai bentuk rasa syukur atas hasil yang diperoleh.

Habis panen, yang dalam bahasa Dayak dikenal sebagai Tiga Tawei Lepa Ajau, memiliki makna kebahagiaan dan rasa syukur para petani atas rezeki yang diberikan Tuhan selama satu tahun. Momen ini menjadi ajang kebersamaan warga, sekaligus mempererat hubungan sosial di tengah masyarakat.

Dalam pelaksanaannya, warga mengenakan pakaian adat Dayak dan membawa berbagai hidangan khas seperti sebukong, lemang, hingga tapai. Suasana penuh kehangatan terlihat saat masyarakat berkumpul dan menikmati santapan bersama dalam pesta panen tersebut.

Perjalanan menuju Desa Metun Sajau dari Tanjung Selor ditempuh sekitar 50 menit. Setibanya di lokasi, tim disambut hangat oleh warga yang telah bersiap dengan busana adat serta rangkaian acara adat yang meriah.

Salah satu momen yang paling dinantikan masyarakat adalah kehadiran kepala daerah. Pada kesempatan tersebut, Wakil Bupati Bulungan, Kilat, hadir dan disambut dengan ritual adat, termasuk tarian kanjet ajai dan prosesi penyiraman jalan sebagai simbol penghormatan serta doa keselamatan bagi para tamu.

“Kita berharap budaya seperti Lepa Ajau ini terus dilestarikan. Ini bukan hanya tradisi, tapi juga wujud rasa syukur dan kebersamaan masyarakat,” ujar Kilat, Minggu (26/4).

Ia juga mengaku terharu atas sambutan hangat masyarakat yang telah mempersiapkan acara dengan begitu baik. Di sisi lain, warga turut menyampaikan berbagai aspirasi, mulai dari hasil pertanian yang menurun pada 2025 hingga kebutuhan pembangunan infrastruktur desa.

Menanggapi hal tersebut, pemerintah daerah berkomitmen untuk terus mendukung sektor pertanian dan pembangunan desa melalui berbagai program.

“Pemerintah berkomitmen membantu masyarakat, baik melalui sarana dan prasarana untuk mendukung pertanian maupun pembangunan infrastruktur,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Desa Metun Sajau, Muren Siin, mengungkapkan bahwa sejumlah usulan warga mulai terealisasi, seperti pembangunan jembatan di RT 1 yang telah lama diharapkan masyarakat.

“Kami berterima kasih karena usulan masyarakat mulai diperhatikan. Pembangunan jalan, jembatan, hingga fasilitas lainnya sangat membantu warga,” ujarnya.

Ia juga menyebutkan bahwa peningkatan jalan lingkungan, pembangunan drainase, serta akses jalan usaha tani menjadi prioritas yang terus diusulkan melalui musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang).

Tradisi Lepa Ajau tidak hanya menjadi perayaan panen, tetapi juga menjadi ruang dialog antara masyarakat dan pemerintah. Di tengah berbagai tantangan, semangat gotong royong dan pelestarian budaya tetap menjadi kekuatan utama masyarakat Desa Metun Sajau. (Lia)