SAMARINDA — Komika Panji Pragiwaksono menyoroti gelombang aksi demonstrasi di Kalimantan Timur, khususnya di Samarinda, yang dalam beberapa hari terakhir dipenuhi ribuan massa. Hal itu disampaikan melalui kanal YouTube pribadinya. Selasa(28/4/2026).

Dalam tayangan tersebut, Panji menggambarkan situasi di Samarinda yang memanas akibat protes masyarakat terhadap Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud.
“Dalam beberapa hari ini, Samarinda lagi panas karena ribuan massa dari berbagai kalangan turun ke jalan memprotes gubernur mereka,” ujarnya.
Ia menilai, isu yang berkembang di Kalimantan Timur tidak hanya menjadi perhatian lokal, tetapi juga relevan untuk publik nasional.

“Apa yang diperjuangkan masyarakat Kalimantan Timur ini bukan cuma soal daerah, tapi penting juga untuk seluruh Indonesia,” katanya.
Panji juga menyinggung kritik masyarakat terkait dugaan penggunaan anggaran yang dinilai tidak tepat di tengah kondisi ekonomi warga. Menurutnya, persoalan tersebut bukan sekadar isu gaya hidup pejabat.

“Masalahnya bukan sekadar gaya hidup, tapi lebih prinsipil—soal penggunaan anggaran di saat rakyat sedang kesulitan,” tegasnya.
Selain itu, ia menyoroti kekhawatiran publik terhadap potensi konsentrasi kekuasaan dalam lingkup keluarga pejabat. Ia mengingatkan bahwa kondisi tersebut berisiko melemahkan fungsi pengawasan dalam sistem pemerintahan.

“Kalau kekuasaan terkonsentrasi dalam satu lingkaran, fungsi kontrol bisa melemah dan itu berbahaya bagi masyarakat,” ucapnya.
Dalam pandangannya, fenomena ini juga tidak lepas dari peran masyarakat dalam menentukan pemimpin melalui proses demokrasi. Ia menekankan pentingnya tanggung jawab publik atas pilihan politik.

“Kita sebagai rakyat juga harus bertanggung jawab atas pilihan kita. Kalau salah memilih, ya harus diakui dan diperbaiki ke depan,” katanya.
Panji menambahkan, kesadaran kolektif menjadi kunci untuk mendorong perubahan ke arah yang lebih baik.
“Perubahan itu dimulai dari kesadaran bahwa kita pernah salah, lalu belajar supaya ke depan bisa memilih lebih baik,” ujarnya.

Ia pun mengingatkan agar kekecewaan terhadap kondisi politik tidak berujung pada sikap apatis.
“Jangan sampai kekecewaan membuat kita apatis, justru harus jadi pelajaran untuk memperbaiki kualitas demokrasi,” tutupnya.