TANJUNG REDEB – Minimnya jumlah personel Tim Reaksi Cepat (TRC) menjadi kendala utama BPBD Berau dalam menangani bencana, terutama saat terjadi kejadian berskala besar.
Kepala BPBD Berau, Masyhadi, menyebut saat ini pihaknya hanya memiliki delapan personel TRC, jauh dari kebutuhan ideal.
“Hambatan utama bagi kami adalah kekurangan personel. Tim Reaksi Cepat kita itu hanya delapan orang,” ujarnya, Rabu (1/4/2026).
Menurutnya, standar minimal yang dibutuhkan untuk tim reaksi cepat seharusnya berada di angka 30 hingga 40 orang. Kesenjangan jumlah personel ini sangat terasa dampaknya ketika terjadi bencana yang meluas, seperti banjir besar yang melanda sembilan desa pada tahun lalu.
Meskipun kekurangan tenaga manusia, Masyhadi memastikan bahwa dari sisi armada, BPBD masih dalam kondisi cukup memadai. Fasilitas pendukung baik darat maupun air tersedia untuk menunjang tugas-tugas pemadaman dan penyelamatan.
“Kalau untuk armada saya rasa cukup saja, baik darat maupun air ada. Dikatakan lengkap sih belum, cuma cukup untuk menunjang tugas kami,” tambahnya.
Menyikapi kondisi ini, BPBD telah mengajukan usulan penambahan personel kepada pemerintah daerah. Namun, sembari menunggu realisasi tersebut, pihaknya terus mengoptimalkan fungsi koordinasi dan komando lintas instansi.
Dalam setiap penanganan bencana, BPBD tidak bekerja sendiri. Mereka menjalin kolaborasi erat dengan TNI, Polri, serta berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait lainnya.
Selain itu, peran masyarakat di tingkat kampung juga menjadi pilar penting dalam penanggulangan bencana di wilayah pelosok. Adanya relawan dan aparat kampung membantu menutupi keterbatasan personel resmi BPBD.
“Kita ada relawan di tingkat masyarakat dan aparat kampung yang menjadi partner kami dalam menanggulangi bencana,” jelas Masyhadi.
BPBD berharap usulan penambahan SDM dapat segera disetujui guna meningkatkan efektivitas tanggap darurat di Kabupaten Berau ke depannya. (akti)

